Tampilkan postingan dengan label Poetry. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Poetry. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 Agustus 2015

Mozaik yang Tidak Hilang



19 agustus 2015 merupakan salah satu tanggal yang ngga akan gue lupakan. Bukan, bukan gue dapet teraktiran atau ditembak sama oppa -_- melainkan saat dimana akhirnya, gue dapat menikmati tugas sekaligus karya sastra gue dan teman-teman sekelas. Subahanallah! Senengnya bukan main!

Selasa, 05 Mei 2015

Puisi - Malai Nada

Malai Nada

Aku duduk di atas bangku
memangku sebuah gitar tua
menatap sepasang bola mata
mencoba mengatur nada

Dia bersila di atas meja
mengetes dawai bertangga nada
debu tipis yang berterbangan menyelubungi tubuh ringkihnya
bermandikan sinar matahari senja

Dalam hitungan ketiga
kupetik gitarku
terdengar sebuah interlude
kubiarkan perasaanku bermetafora menjadi melodi

dia menjengitkan kepala mengikuti aku
satu dua tiga, jemarinya ikut melukis sebuah irama
lebih cepat dari andante, bersemi seperti kelopak bunga matahari
ringan, hangat, dan manis

aku pun terbawa suasana
presensi dia dengan sebuah gitar adalah bencana
macam jampi dukun yang memperalatku
napasku jadi tercekat
jiwaku melayang bebas

dia seperti pakar akustika, melebihi Abang Iwan
untaian nada dari gitar kami bergema menjadi satu
jelas terngiang birama terner, berpacu dalam melodi
seperti nyanyian musim panas, tempo berubah ke arah allegro

satu dua dan tiga
scenery kita lebih indah dari lembayung senja
kembali kutekankan, aku sumpah mati
jatuh cinta
pada
gitarnya


entah kenapa, tapi gue sangat favoritin puisi asal buat gue yang satu ini :) manis banget feel-nya menurut gue, hehehe...

Sabtu, 04 April 2015

Simara Marah

Angin membawa bulan piutang
Hujan mengguyur irisan ilalang
Surya menyinari gemerincing giwang
Bulan mencumbu gugusan bintang

Aku tak ingin mengais serapah
Hanya ingin mengikis amarah
Aku tak ingin menoreh tangis
Hanya ingin memeroleh historis

Kamu tidur tanpa selimut
Aku minum tanpa air
Kamu tahu apa yang memekakkan imajerimu?
Aku sadar, kamu yang memporak-porandakan habis selter imajiku

Yakinlah,
Kelak mega ‘kan berhenti berlari
Menyeimbangi angkasa yang tak berkaki
Hati yang merasa tapi tak dirasa
Mata yang melihat tapi tak dilihat
Suara yang menggema tapi tak didengar
Bibir yang mengucap tapi tak dikecup

Ini tentang kisah Simara yang mengemis ingin dicinta
Kungkungan jiwa yang menggayut dengan pongah di sudut birai jendela
Menyumbat hampa dengan sunyi dalam simfoni bernada ironi
Tinta berkilap merah jambu menekan jiwa dalam kubangan bernada sembilu

Oh, jadinya Simara itu aku
Akunya itu kamu.


Pams, 2015.03.25


xianara

Jumat, 07 November 2014

PUISI KARYA SAPARDI DJOKO DAMONO

KETIKA KAU TAK ADA
ketika kau tak ada, masih tajam seru jam dinding itu
jendela tetap seperti matamu
nafas langit pun dalam dan biru, hanya aku yang
menjelma kata, mendidih, menafsirkanmu

kau mungkin jalan menikung-nikung itu

yang menjulur dari mimpi, yang kini
mesti kutempuh, sebelum sampai di muaramu
sungguh tiadakah tempat berteduh disini?

kalau tak ada di antara jajaran cemara itu

kepada siapa meski kucari jejak nafasmu?
maghrib begitu deras, ada yang terhempas
tapi ada goresan yang tak akan terkelupas

Kamis, 23 Oktober 2014

Jangan Kasihani Aku

 Jangan Kasihani Aku

Kasih aku benci
Limpahi aku caci maki
Jangan tinggal di sampingku
Penuhi takdir, lepaskan jiwaku

Hantami aku batu
Kuliti setitik dusta
Pinta semua pintu
Menuju kawah cinta